Skip to main content

Semester 4 - Perancangan Organisasi (Kelemahan UNILEVER)

Kekuatan dan Kelemahan dari PT UNILEVER
Ada pun yang menjadi kekuatan dan kelemahan PT UNILEVER
KEKUATAN
·         Strategi promosi produk unilever yang efektif dengan menampilkan model-model yang tipikal muda, berkulit putih, berambut panjang sehingga memacu konsumen (lebih spesifik perempuan) untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri hasil yang diterima di model dalam iklan tersebut.
·         Unilever gencar di misi sosial, sehingga kedekatan dengan konsumen dapat terus terjaga. Hal ini terlihat dari pembelanjaan iklan dan promosi yang telah mendorong pertumbuhan penjualan di tengah pasar yang kompetitif. PT Unilever Indonesia sebagai salah satu perusahaan dengan belanja iklan terbesar menurut majalah marketing (Top Brand Survey, edisi khusus 2007).
·         Unilever mempunyai moto “Operational excellence with no compromise on quality”. Unilever dalam menjalankan operasinya dijalankan dengan baik tanpa mengabaikan kualitas produk.
·         Pemimpin pasar consumer goods di Indonesia.
·         Memiliki tim yang terdiri dari orang-orang berdedikasi, terampil, dan termotivasi di segenap jajaran.
·         Adanya kenaikan pangsa pasar untuk kategori-kategori penting seperti face care, savoury, dan ice cream.
·         Perencanaan yang baik dan kerja sama yang erat dengan para pemasok, konsumen, dan distributor untuk menghantar produk-produk dari pabrik ke tempat-tempat penjualan.
·         PT Unilever Indonesia tbk sudah memiliki jaringan distribusi sendiri sehingga distribusi produknya hingga ke daerah-daerah dapat terlayani.
KELEMAHAN
·         Struktur matriks yang dimiliki PT Unilever mempunyai beberapa tantangan yang harus dihadap perusahaan yaitu pertama, sulitnya koordinasi kegiatan antar departemen yang mempunyai agenda dan jadwal sendiri. Kedua, komunikasi pada karyawan yang bisa menerima pesan-pesan yang berbeda-beda. Ketiga, resolusi konflik antar insiatif dari dukungan departemen (SDM, keuangan, dan lain-lain) dengan departemen lini produk yang biasanya sangat berorientasi komersial.
·         Rendahnya respon pasar terhadap produk-produk tertentu.
·         Jumlah karyawan yang tambun.
·         Birokrasi yang panjang karena kebijakan sentralisasi yang menyebabkan unilever Indonesia tidak bisa begitu saja memutuskan sesuatu.
·         Lambatnya konsolidasi intern dalam pengambilan keputusan.
·         Ketidakjelasan sertifikat halal untuk produk-produk tertentu.
·         Mayoritas produk unilever memiliki entry barrier rendah.
·         Growth omzet penjualan dibawah rata-rata industri.
Unilever Indonesia didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever. Pada 22 Juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT Lever Brothers Indonesia dan pada 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk. Unilever Indonesia mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1981.dan mempunyai lebih dari 1000 supplier.
Di Indonesia, Unilever bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan dan minuman dari teh, produk-produk kosmetik, dan produk rumah tangga.
           Produk yang dihasilkan PT Unilever adalah Surf, Rinso, Buavita, Sunsilk, Taro, Pepsodent, Molto, Lifebuoy, Clear, Close Up, Citra, Axe, Royco, Kecap Bango, SariWangi, Blue Band, Wall's, Sunlight, Pond's, Lux, Rexona, Pure It, CIF, Vaseline, Dove, Domestos Nomos, Viso, Wipol, Vixal, Lipton, She, Molto.
Berikut adalah bagan struktur organisasi yang dimiliki oleh Unilever Indonesia.

Kebaikan departementalisasi fungsional adalah menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi utama, menciptakan efisiensi, memungkinkan pengawasan manajemen puncak lebih ketat. Sedangkan keburukannya adalah terjadinya konflik antar fungsi, kemacetan tugas, pandangan yang sempit.
Sent from my iPhone


Sebulan lalu, secara mengejutkan PT Unilever Indonesia Tbk melalui laman resminya mendaftarhitamkan produksi CPO (Crude Palm Oil) PT Dutapalma Nusantara. Unilever menuding Dutapalma merusak hutan dalam proses produksi sawit. Karena itu, Unilever menghimbau kepada kepada supplier-supplier Unilever untuk tidak membeli CPO Dutapalma.

Berita negatif yang sudah beredar di beberapa media cetak dan elektronik tersebut jelas membuat gerah pihak Dutapalma. Pengacara PT Dutapalma David M.L.Tobing yang didampingi Sekretaris Perusahaan Dutapalma Diyah Sasanti Retnaning lantas menggelar konferensi pers di kantor Dutapalma, Jl. Rasuna Said, Jakarta, Rabu (14/4). Diyah Sasanti mengatakan, keterangan terbuka ini merupakan klarifikasi Dutapalma atas pernyataan Unilever.


Dutapalma
PT Dutapalma Nusantara dan anak perusahaan (“Dutapalma”) adalah kelompok perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1987. Sejak masa pendirian hingga sekarang, kata Diyah, Dutapalma selalu menjalankan usahanya secara etis, legal. Buktinya Dutapalma selalu mentaati dan mematuhi peraturan perundang-undangan, termasuk memperoleh izin-izin yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha.

David Tobing menambahkan, sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit, Dutapalma tidak pernah melakukan penebangan ilegal (illegal logging), sebagaimana dituduhkan Unilever. Apabila ada penebangan ilegal, maka hal tersebut dilakukan oleh pihak luar dan di luar kendali Dutapalma.

“Sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), pembukaan lahan yang dilakukan Dutapalma telah sesuai dan memenuhi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” tegas David.

Sebagaimana diketahui, lahan sawit Dutapalma berada di Riau dan Kalimantan Barat. Menurut David, kondisi geografis dan topografi tanah di Kalimantan memang sebagian besar berupa lahan gambut. Hukum Indonesia secara tegas melarang untuk melakukan penanaman atau pembukaan perkebunan di atas lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter. Jika melebihi 3 meter, maka tidak dilakukan dan tidak feasiblesecara ekonomi.

“Dan Dutapalma tidak melakukan itu. Dengan demikian, dugaan perusakan lahan gambut yang dialamatkan ke klein kami, jelas salah atau tidak berdasar,” tukas David.

Atas dasar itu, sambung David, Dutapalma akan memberikan teguran (somasi) kepada Unilever Indonesia dan Unilever pusat yang berkantor di London, Inggris. Dutapalma menuntut Unilever untuk meminta maaf karena telah mencemarkan nama baik dan merusak reputasi Dutapalma.

“Surat somasi sudah dikirim ke Unilever hari ini,” cetus David, saat dihubungiIndonesia Monitor, Kamis sore (15/4).

David menjelaskan, setelah somasi dilayangkan, Dutapalma akan memberikan waktu tujuh hari kepada Unilever untuk mengklarifikasi apa yang telah dilakukan perusahaan itu.  Jika sampai tiga kali somasi pihak Unilever tidak melakukan klarifikasi, maka Dutapalma secara tegas akan menyeret masalah ini ke ranah hukum.

“Yah, Dutapalma akan menggugat secara hukum. Ini menjadi semacam pelajaran atau penggugah bagi perusahaan lain. Kalau memang benar, jangan takut,” David menandaskan.

Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk Maria Dewantini Dwianto yang dikonfirmasi pada Jumat pagi (16/4), mengaku hingga Kamis sore belum menerima surat somasi dari Dutapalma. Namun pada Sabtu malam (17/4), Maria mengirim pesan singkat yang menyatakan bahwa surat somasi sudah diterima Unilever.

“Saat ini sedang dipelajari. Untuk sementara baru itu saja yang bisa disampaikan Unilever,” kata Maria.

Kaitannya dengan pencemaran nama baik, Diyah Sasanti mengungkapkan,  dampaknya belum terlihat pada penjualan Dutapalma. Diyah juga menegaskan bahwa selama ini Dutapalma belum pernah menjual langsung CPO kepada Unilever maupun Nestle. Namun, Diyah mengaku tidak tahu soal ada kemungkinan produk CPO Dutapalma sampai ke tangan Unilever melalui pihak lain. Dari total produksi Dutapalma, hanya 30 persen yang diekspor seperti ke Cina dan India, sedangkan sebagian besar dijual di pasar dalam negeri.

“Tapi kita merasa terusik akibat ulah Unilever yang  menghimbau rekan-rekan bisnisnya. Itu semacam bad promotion. Sekarang memang belum berdampak, tetapi kita tidak tahu 2-3 tahun kemudian,” ujar Diyah.

“Tindakan Unilever terkesan menciptakan diskriminasi kepada Dutapalma dari pelaku usaha CPO lainnya, karena akan menghambat perkembangan bisnis dan posisi tawar Dutapalma,” timpal David.

Dikatakan Diyah, tahun ini Dutapalma tetap menargetkan kenaikan produksi CPO hingga 800.000 ton, lebih tinggi dari tahun 2009 yang hanya 600.000 ton. Hingga saat ini, total produksi Dutapalma mencakup lahan 100.000 hektar, sebanyak 60.000 hektar berada di Riau, sedangkan 40.000 hektar berada di Kalimantan Barat.

“Target produksi yang telah kami tentukan tidak terpengaruh blacklistyang dilontarkan Unilever,” cetus Diyah, enteng.

Selain itu, Diyah menuturkan, Dutapalma selalu mempunyai komitmen tinggi untuk terus-menerus bertindak secara etis dan  beroperasi secara legal. Lebih dari itu, Dutapalma berkontribusi untuk peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya sekaligus mengupayakan peningkatan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat luas.


“Melalui Darmex Foundation (yayasan nirlaba yang didirikan oleh pemegang saham perusahaan-perusahaan di bawah Dutapalma), Dutapalma melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud nyata atas kepedulian dan komitmennya untuk berbagi kasih kepada masyarakat,” tukas Diyah.(Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 94 Tahun II, 21-27 April 2010, halaman 28—)

Comments

Popular posts from this blog

Perancangan Teknik Industri 1 - Penjadwalan

A.     Pembahasan Umum Penjadwalan merupakan pengauran jumlah dan tipe produksi yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, penjadwalan juga berhubungan dengan penggunaan fasilitas dan bahan material untuk pelaksanaan produksi (Komarudin, 2013). Penjadwalan produksi dapat diartikan sebagai pengalokasian sumber daya untuk mengerjakan operasi-operasi tertentu dengan tujuan memperoleh jadwal produksi yang optimal. Dalam penjadwalan produksi yang dimaksud sebagai operasi adalah job, sedangkan yang dimaksud dengan sumberdaya adalah mesin. Sehingga pemasalahan penjadwalan produksi dapat diartikan sebagai proses mengurutka job-job pada mesin-mesin yang berbeda dalam suatu unit produksi untuk mencapai kondisi yang optimal (Ponnambalam, 2001). Konsep penjadwalan job shop adalah menentukan waktu suatu operasi mulai dikerjakan dan mengalokasikan resource untuk mengerjakan operasi tersebut. Pada saat menjadwalkan suatu operasi selai...

Semester 4 - Mesin Pemindah Bahan (Perancangan Lift)

MAKALAH MESIN PEMINDAH BAHAN “ PERANCANGAN LIFT PEMINDAH PEKERJA UNTUK BANGUNAN 10 LANTAI ” DISUSUN OLEH: KELOMPOK PRODI INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016 BAB III PERENCANAAN ELEVATOR Direncanakan sebuah elevator penumpang untuk gedung perkantoran dengan data-data sebagai berikut : III.1 Komponen-Komponen Dalam Lift III.1.1 Perencanaan Mesin/Motor Dengan mempertimbangkan faktor keamanan, kecepatan, dan kenyamanan penumpang dalam elevator, penulis memilih mesin traksi gearless untuk motor penggerak elevator. Mesin traksi ini merupakan mesin traksi dengan roda non gigi, putaran  torsi motor listrik didukung baik oleh AC atau DC. Dalam hal ini, puli katrol penggerak langsung melekat ke ujung motor. Lift traksi gearless dapat mencapai kecepatan hingga 2.000 ft / menit (10 m / s), atau bahkan lebih tinggi. Rem listrik terpasang antara motor dan drive sheave (atau gearbox) untuk menahan lift diam di l...

Semester 4 - Perpindahan Panas

1.        Assumptions 1 The fins are sufficiently long so that the temperature of the fin at the tip is nearly T ∞ . 2 Heat transfer from the fin tips is negligible. Analysis Taking the temperature of the fin at the base to be T b and using the heat transfer relation for a long fin, fin efficiency for long fins can be expressed as η fin= if the entire fin were at base temperature =  =    = This relation can be simplified for a circular fin of diameter D and rectangular fin of thickness t and width w to be η fin,circular =  =  = η fin,rectangular =  =  = 2.        A hot plate is to be cooled by attaching aluminum pin fins on one side. The rate of heat transfer from the 1 m by 1 m section of the plate and the effectiveness of the fins are to be determined. Assumptions 1 Steady oper...